Lunarjack d’Archer on The Spot

Idul Adhaku Basah Kuyup
tidak terasa ternyata waktu berjalan dan aku masih tetap saja jauh dari rumah. aku kerindukan kehangatan keluarga saat Lebaran datang. kejadian yang lalu terulang kembali. lebaran ke empat yang aku nikmati saat mengemban cerita sebagai seorang geologist. lebaran di Kota Tarakan Kalimantan Timur.
selepas malam yang melelahkan setelah perjalanan Balikpapan-Tarakan yang dilanjut dengan kegiatan urus sana-sini. bangun pagi terburu-buru karena belum tau jadwal sholat Ied di Tarakan. waktu keluar dari penginapan ternyata hujan. hujannya tidak lebat, hanya kecil-kecil tapi keroyokan.
sampai di masjid ternyata kapasitasnya tidak mampu menampung semua jamaah yang datang. walhasil yang datang belakangan mendapat tempat di halaman, termasuk diriku. berdiri dibawah guyuran hujan sambil berharap ada yang mau berbagi koran denganku sebagai alas untuk sholat. alhamdulillah ada yang datang membawakan dua lembar koran. jadilah aku sholat di atas dua lembar koran tadi.
ternyata hujan tidak mau kompromi walaupun hari ini hari raya. itu kehendak yang punya hujan. beruntunglah diriku disampingku ada yang berbagi sajadah. alhamdulillah semoga lelaki itu diberi limpahan rahmat selalu dari Allah SWT. pas lembar koran pertama aku gelar memanjang untuk tempat sujudku, dia masih berdiri sambil memegang sajadahnya. sesaat kemudian dia menggelar sajadahnya melebar untuk kami berdua. bingung jadinya aku masih ada lembar koran satu lagi. tanpa banyak pikir akupun meletakkan koran itu untuk alas kaki kami, ternyata hanya muat untuk kaki kiriku dan kaki kanannya.
hujan masih saja turun. namun tidak mengurangi hikatnya sholat Ied. kali pertama berbasah-basahan saat Solat Hari Raya. Alhamdulillah masih bisa menunaikan Sholat Hari Raya Idul Adha, biarpun hujan dan jauh dari keluarga.
Atas nama pribadi dan seluruh keluarga besar, saya mengucapkan “SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1430H, SEMOGA KITA DAPAT MENGAMBIL PELAJARAN DARI IDUL QURBAN INI.”
Last letter for Mezzaluna
Insyaallah ini kali terakhir aku menulis tentang seorang perempuan yang pernah singgah mengisi hari-hariku dengan petuah-petuah bijak dan air matanya. Aku bukan ingin menyerah dengan keteguhan hatiku yang kalah oleh waktu. Jika saja masih ada lambaian tangan di ujung sana, mungkin aku masih akan tetap berdiri. Tidak hari ini. Tidak karena engkau tidak pernah ada disana.
Ada sejuta keluh kesah dan renungan mengisi otakku ketika menyesali kata “iya” terakhir saat aku melepaskan kepergian sombongmu. Aku tidak pernah bisa menemukan selain pemikiran tentang keangkuhanmu sebagai manusia. Saat-saat mengingatmu membuatku merasa seakan ingin bertanya dan selalu bertanya kepadamu.
Jangan pernah marah jika aku mengatakanmu angkuh dan sombong. Itulah yang engkau ciptakan di alam pikirku. Bukan aku. Aku tidak pernah pergi darimu sampai detik ini. Engkau yang meninggalkan sejuta perasaan bersalah dalam diri ini. Aku tau sekarang bukan saatnya untuk menghakimimu dengan sejuta kata-kata ini, tapi biarkan kulepas semua ini bersamaan dengan akhir kata dari surat ini.
Sepanjang waktu kita, sudah begitu banyak cerita yang kita lewati. Banyak kisah, air mata, tawa dan semangat hadir disela-sela kehidupan kita. 2 tahun lebih perjalanan waktu terasa cepat berlalu ketika saat itu kita kenang. Masih ku ingat tatapan pertamamu ketika aku masuk ke ruang kuliah dengan wajah lusuh bermata merah dengan pakaian kumal selepas aku menghabiskan malam dengan berbotol alcohol bersama sahabat.
Engkau telah merubahku, merubah sebegitu banyaknya kehidupan yang pernah aku lewati. Menjadikanku orang yang bisa merasa salah atas segala hal yang salah. Engkau rendahkan aku hingga aku tak mampu untuk berdiri dan aku tak pernah marah padamu akan semua itu.
Aku takkan mengemis untukmu lagi. Memintamu untuk kembali hadir seperti waktu yang telah berlalu. Aku tau kau orang hebat yang sanggup berdiri sendiri tanpa topangan dari siapun. Aku tahu kesombongan hidup yang engkau miliki tentang pengalaman yang tidak semua orang merasakan pahitnya. Aku tau pandangan matamu yang telah melihat berbagai rupa kehidupan manusia yang berbeda dengan tingkat penilaian hati yang kadang tergoyahkan.
Terakhir engkau bilang sebelum kita benar-benar berpisah, “Abang, adek ingin beribadah. Mendekatkan diri dengan Allah”. Kata-kata ini yang membuat kata “iya” itu mengalir begitu saja karena aku sadar dengan siapa aku berhadapan. Aku tak mampu mengucapkan kata lain selain “iya”.
Hari ini kuselesaikan semua yang seharusnya sudah kuselesaikan dari dulu. Hari ini kusudahi cinta, sayang, amarah, dendam dan segala perasaan yang pernah hadir di dalam hati dan pikiranku. Jika semua jalan yang engkau tempuh adalah jalan terbaik yang kau pilih, maka berjalanlah dengan segala apa yang kau miliki. Jadilah perempuan terbaik yang memang patut aku banggakan, seperti adanya kubanggakan dirimu di depan dunia.
Selamat jalan masa lalu. Selamat jalan Adek. Selamat jalan Mezzaluna. Selamat jalan Octavianty Sari. Kututup lembaran ini sebagai akhir cerita kita.
Assalamu alaikum ya ahli syurga.
Cerita yang melelahkan
Diantara semua perjalananku, mungkin cerita sekarang ini yang paling tidak mengenakkan. Bagaimana tidak, dari awal sampai detik ini tidak ada yang namanya mengesankan di hati. Berharap melihat dunia baru di tanah Sulawesi, walhasil malah apes.
Setelah perjalanan eksplorasi di pulau Matak, kepulauan Anambas, bos memberikan job baru. Berhubung ada banyak job yang harus dijalankan maka team yang kemarin dibagi 2 dan penambahan personel. Team 1 berangkat ke Tarakan-Kalimamtan Timur, dan team 2 berangkat ke Buol-Sulawesi Tengah. Kebetulan aku diplot di team 2. Sudah ada koordinator lapangan, akhirnya jadi wingman lagi untuk kesekian kalinya. No big deal buatku.
Keberangkatan selalu ditunda. Awalnya dapat berita akan berangkat lebih dulu dari team Tarakan, ternyata berangkatnya belakangan alias satu hari setelah keberangkatan team 1. Hambatan kedua datang ketika salah satu tiket keberangkatan ke jakarta tidak berlaku. Sumpah serapah keluar buat agen penjualan tiket.
Sampai di kabupaten Buol, masih stay 3 hari di penginapan. Urus ini urus itu, banyak cengkonek yang ribut.
Pas turun ke lapangan, ternyata keren juga. Keren bukan pemandangannya, tapi keren medannya. Sehari aku bisa tempuh 4 puncak bukit dan 4 jurang sungai. Melelahkan sekali. Untuk tembus 1 km ke dalam saja susahnya minta ampun. Teman-teman lain pun begitu. Semua dapat jatah menyakitkan.
Sampai akhirnya ada satu masalah datang. Semua pasukan diminta turun. Pekerjaan dipending dan cuma makan tidur saja di hotel. Sudah satu minggu keadaan seperti ini. Padahal kami hanya butuh 3 hari untuk menyelesaikan sisa job. Membosankan sampai detik ini masih di hotel kelas melati.
Bayangkan jika kami berada di daerah yang mendukung. Pasti rasa bosan tidak akan datang. Disini, tidak ada tempat hiburan. Tempat makan sedikit. Jaringan seluler sangat terbatas dengan kualitas palin low, menjadikan modem yang ada tidak berarti apapun. Untuk transfer data email saja hanya bisa mengandalkan hp busuk 5200 ku. Dan yang paling menyedihkan adalah pasokan listrik. Setiap hari listrik padam. Untung saja di hotel ini punya generator sendiri. Kalau tidak, kembali lagi ke jaman batu dan kayu.
Tak ada yang lebih baik disini selain mengeluh dan mengeluh. Makan gaji buta. Semua orang ingin pulang, tapi bos minta untuk tetap bertahan.
Apa mau dikata, ya sudah… Tetap bertahan. Tidak tau sampai kapan tetap bertahan.
Fenomena antri di Bank Indonesia Yogyakarta
Terusik dengan omongan bapak-bapak yang antri dibelakangku untu menukar uang. Ternyata mereka mengeluhkan pelayanan oleh loket bank ini. Antri memang baik tapi tidak sebaik falsafah antri tersebut.
Menurut penuturan bapak yang ribut dibelakang saya, inilah yang dinamakan kantor bagus tapi pelayanan jelek. Bahkan dia membandingkan pelayanan kantor dia jauh lebih baik dari pelayanan bank Indonesia.
Hari ini aku ke bank indonesia untuk menukarkan uang rusak titipan adikku. Pertama kali menukarkan uang di bank jadi agak kagok juga. Berbekal tanya dengan bagian informasi, aku langsung antri di barisan para penukar uang. Loket yang dibuka untuk penukaran uang hanya 2. Pelayanannya per nasabah bisa sampai berpuluh menit lamanya. Sepertinya karena jumlah dan jenis uang yang ditukarkan. Antrian berdiri layaknya mau beli sembako di toko kelontong.
Ada sih panel nomor antrian tapi sepertinya tidak berlaku untuk yang antri tukar uang rusak, lusuh dan kadaluarsa. Wal hasil para pengantri harus berdiri. Coba kalau semua dapat nomor antrian, pasti bisa duduk dengan santai sembari menunggu nomor urut antriannya di panggil.
Memang benar juga jika bapak yang dibelakangku ngomel-ngomel. Sepertinya standar pelayanan Bank Indonesia Yogyakarta perlu dibenahi. Sampai sekarang aku sudah antri setengah jam tapi barisan pengantri baru berkurang sedikit. Sepertinya giliranku satu jam lagi deh.
Sebagai tambahan tentang pengamanan pintu depan bank ini, ada metal detector tapi tidak nyala. Satpannya pun hanya duduk-duduk di kursi bagian informasi. Bayangkan coba kalau ada teloris yang masuk sini buat letakin bom. Pasti meledak dengan sukses bom tersebut.
Mestinya Bank Indonesia memiliki standar pelayanan Dan keamanan tingkat tinggi jika melihat dari posisinya sebagai bank negara, bank utama dan bank nomor satu di Indonesia.
I’m Hot Now, Not Just Warm
memang semua hal itu butuh pemanasan. setelah berhari-hari hilang dari peradaban modern ke peradaban semi modern di daerah terpencil akhirnya aku kembali pada jalur. bukan semua jalur yang harus aku lalui melainkan baru sebagai jalur, karena yang lainnya membutuhkan waktu dan juga lain hal yang sulit untuk terpenuhi. akhirnya keluar juga tulisan tentang pulau matak. kemarin-kemarin sempat blank padahal semua sudah terrekam dalam ingatan. aku tidak ingin rekaman itu hilang seperti beberapa cerita yang akhirnya tidak sempat aku tuangkan dalam tulisan karena terlalu lama ada dalam pikiran dan menjadi basi.
kembali ke kehidupan nyata yang mudah-mudahan bukan sekedar omong kosong seperti biasa. alhamdulillah sekarang aku punya laptop yang mungkin bisa membantuku dalam menggapai hal-hal yang pernah aku impikan. laptop murahan keluaran HP-Compaq yang standar sudah leih dari cukup untukku. hasil keringatku sendiri yang benar-benar keringat dari perjalanan siang hari yang panas di belantara hutan dan malam hari yang penat dengan kewajiban repport yang menumpuk. bukan dengan merengek dan mengemis pada orang tua, kawan. aku mewujudkannya dengan caraku sendiri atas seijin Allah.
sebenarnya laptop ini hanya titipan. bukan untuk diriku, tapi untuk adik kecilku besok ketika dia akan berstatus mahasiswa. aku sudah menjanjikannya sebuah laptop yang aku beli sendiri untuknya, karena aku begitu jarang memberikan benda-benda pada dia yang dapat membahagiakan dirinya. semoga besok kamu dapat menggunakannya untuk hal-hal yang berguna. laptop ini untukmu. tenang saja, kamu pakai ini, besok aku beli yang baru lagi untuk diriku sendiri.
hehehe… sudah punya laptop baru tapi sepertinya aku harus menebusnya dengan psp ku. tapi kenapa mau dijual aja kok susah bener. nggak ada yang mau beli. ada yang meu beli malah matok harga nawarnya rendah, pending lagi deh. padahal perut sudah keroncongan karena nggak punya uang. biarlah lapar yang penting aku bisa bahagia. siapa lagi yang bisa membahagiakan diriku selain myself. benar aku memang selfist.
mari kita lanjutkan hidup ini. walaupun masih banyak kekurangan dan perut lapar. jangan jadikan semua ini menjadi masalah. lets rock the world!!!
SEJARAH GEOLOGI ZONA PEGUNUNGAN SELATAN JAWA TIMUR
BAB I
GEOLOGI UMUM
- Fisiografi
Secara umum, fisiografi Jawa Tengah bagian selatan-timur yang meliputi kawasan Gunungapi Merapi, Yogyakarta, Surakarta dan Pegunungan Selatan dapat dibagi menjadi dua zona, yaitu Zona Solo dan Zona Pegunungan Selatan (Bemmelen, 1949) (lihat Gambar 2.1). Zona Solo merupakan bagian dari Zona Depresi Tengah (Central Depression Zone) Pulau Jawa. Zona ini ditempati oleh kerucut G. Merapi (± 2.968 m). Kaki selatan-timur gunungapi tersebut merupakan dataran Yogyakarta-Surakarta ( ± 100 m sampai 150 m) yang tersusun oleh endapan aluvium asal G. Merapi. Di sebelah barat Zona Pegunungan Selatan, dataran Yogyakarta menerus hingga pantai selatan Pulau Jawa, yang melebar dari P. Parangtritis hingga K. Progo. Aliran sungai utama di bagian barat adalah K. Progo dan K. Opak, sedangkan di sebelah timur ialah K. Dengkeng yang merupakan anak sungai Bengawan Solo (Bronto dan Hartono, 2001).
Satuan perbukitan terdapat di selatan Klaten, yaitu Perbukitan Jiwo. Perbukitan ini mempunyai kelerengan antara 40 – 150 dan beda tinggi 125 – 264 m. Beberapa puncak tertinggi di Perbukitan Jiwo adalah G. Jabalkat (± 264 m) di Perbukitan Jiwo bagian barat dan G. Konang (lk. 257 m) di Perbukitan Jiwo bagian timur. Kedua perbukitan tersebut dipisahkan oleh aliran K. Dengkeng. Perbukitan Jiwo tersusun oleh batuan Pra-Tersier hingga Tersier (Surono dkk, 1992).

Gambar 2.1. Sketsa peta fisiografi sebagian Pulau Jawa dan Madura (modifikasi dari van Bemmelen, 1949).
Matak: Selayang Pandang Kepulauan Anambas
Pulau matak merupakan Salah satu pulau di Kepulauan Anambas yang terletak pada N3 18 42.2 E106 15 51.6 (koordinat tengah pulau). Kepulauan Anambas berada di tengah laut Cina Selatan. Lokasinya berada di bagian selatan dari Laut Natuna. Luas pulau ini hanya sekitar 17 X 7 km² dengan teluk besar di bagian selatan. Awalnya tidak begitu banyak informasi yang kami dapat mengenai pulau Matak maupun Kepulauan Anambas. Cari di internet hanya bisa dapat informasi mengenai kenampakan satelit dari melalui google earth. Keberadaan pulau ini benar-benar tidak kami ketahui. Akhirnya kami hanya berangkat bermodalkan peta topografi hasil digitan, serta perlengkapan standar lapangan yaitu tenda dan alat masak lengkap.
3 hari perjalanan baru sampai di tujuan karena satu dan lain hal. Route perjalanan sebelum sampai ke pulau matak yaitu: Yogyakarta – Batam – Tanjung Pinang – Matak. Ini route melalui jalur udara. Sebenarnya jalur lainnya juga bisa seperti melalui Yogyakarta – Pekanbaru – Matak, atau Jakarta – Tanjung Pinang – Matak. Bisa juga melalui jalur laut namun saya yakin semuanya pasti tidak betah dalam perjalanan menuju ke lokasi karena waktu tempuh yang sangat lama. Bisa mencapai hitungan mingguan dari Yogyakarta.

Figure 1. Tujuh Kurcaci Berpetualang
Sebelum aku bercerita lebih jauh lagi tentang Pulau Matak dan sekitarnya, alangkah lebih baik jika aku memperkenalkan terlebih dahulu rekan-rekan yang turut serta dalam perjalanan ini. Kami berjumlah tujuh orang. 6 anak buah dan seorang bapak buah. Mari kita lihat satu satu persatu dari kiri ke kanan. Jack, Zul, Jefri, Lana (penulis), Mbah Mo, Congek dan Eta. Lokasi foto di dermaga pabrik es batu daerah kaki bagian timur pulau. Nah yang namanya Mbah Mo itu lah bapak buahnya. Hehehehe…. Bukan bermaksud pornoaksi atau bugilisasi dengan menampilkan foto ini, tapi karena kami bertujuh tidak berkesempatan foto bersama kecuali pada foto ini, jadinya ada yang bertelanjang dada. Tujuan perjalanan kami ke pulau Matak untuk melihat kondisi geologi dan sebagainya yang terdapat disana. Perjalanan eksplorasi Pulau Matak berlangsung selama 2 minggu dari tanggal 19 september 2009 sampai tanggal 2 oktober 2009. Itu makanya kami tidak merayakan lebaran bersama keluarga melainkan berlebaran di kota Batam. Mari kita lanjutkan lagi ceritanya.



Recent Comments